Share it

Kamis, 19 Mei 2011

“Teguran Alloh yang kadang menyakitkan”

“Bersyukurlah bila Alloh SWT masih menegur kita dengan sesuatu yang menyakitkan, tapi lalu hal itu membuat kita terhenyak dan sadar. Bersyukurlah kepada Alloh SWT, bila kita masih merasakan pengingatan dari Alloh SWT, dengan suatu keadaan yang memukul hati. Tapi hal itu kemudian melahirkan ketundukan pada keagungan Alloh SWT, menyadarkan perasaan faqir terhadap kuasa Alloh SWT, membuat kita mengerti tentang ketidakberdayaan di hadapan kebesaran-Nya yang selama ini sering tertutup oleh kesombongan, perasaan aman, atau keadaan kita yang stabil. Artinya, kita menjadi tidak kenal dengan diri sendiri seperti perkataan ahli hikmah, Qiss bin Saadah, “Sebaik-baiknya pengenalan seseorang adalah pengenalannya terhadap diri sendiri. Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang mengajarkan seseorang mengerti tentang kadar ilmunya.”
~ Ibnul Qoyyim rahimahulloh: “Sungguh hati itu mempunyai kekasatan yang tidak bisa dihaluskan kecuali dengan kembali menghadap kepada Alloh. Hati juga mempunyai rasa teramcam yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan suasana intim dan dekat dalam kesendirian bersama Alloh. Hati juga mempunyai kesedihan, yang tak mungkin diusir kecuali dengan rasa bahagia yang muncul dari ma’rifah kepada Alloh SWT dan hubungan yang baik dengan-Nya. Hati juga mempunyai kegelisahan yang tidak bisa ditenangkan kecuali dengan berhimpun kepada Alloh dan lari mendekat kepada Alloh. Hati juga mempunyai api yang membakar, yang tidak bisa dipadamkan kecuali dengan RIDHO terhadap perintah, larangan, ketetapan-Nya, serta keSABARan hingga saat bertemu dengan-Nya. Hati juga mempunyai keinginan yang besar, yang tidak bisa dihentikan kecuali bila hanya Alloh SWT sajalah yang diinginkan. Hati juga memiliki kepapaan, yang tak mungkin dicukupi kecuali dengan cinta kepada-Nya, senantiasa berdzikir dan ikhlas kepada-Nya. Andai seluruh dunia ini diberikan untuk mencukupi kepapaan itu, niscaya kepapaan itu takkan pernah tercukupi juga.”

Memaafkan diri sendiri

“Apa yang kita alami dan kita dapatkan dari hidup ini sudah diatur oleh Alloh SWT. Tetapi merupakan karunia dan kasih sayang-Nya, kita dinilai oleh Alloh berdasarkan atas usaha dan jerih payah kita, bukan atas apa yang ditetapkan untuk kita. Merupakan keadilan Alloh, Ia tidak menilai kita dari apa yang telah Ia tetapkan sendiri untuk kita. Tapi atas apa yang kita lakukan untuk mengejar ketetapan itu. Uniknya kita manusia, betapapun Alloh menyuruh kita berusaha, seringkali ukuran utama kita adalah apa hasil yang kita dapatkan dari usaha itu, bukan sejauh mana proses menuju hasil itu. Hasil memang penting, tapi pada akhirnya kita akan menerima apa-apa yang memang menjadi milik kita. ”
”Memaafkan diri untuk hasil-hasil hidup yang menyenangkan, yang sesuai dengan keinginan, lebih banyak bersifat syukur dan pengendalian diri untuk tetap melakukan hal-hal yang mubah. Tapi memaafkan diri untuk hasil hidup yang tidak menyenangkan, biasanya lebih banyak bersifat SABAR dan PENYEMANGATAN DIRI untuk tetap melakukan hal-hal yang benar.”
“Memaafkan diri adalah sebentuk kesadaran, bukan sikap masa bodoh; adalah sebentuk kearifan, bukan kecerobohan; adalah cara kita mengapresiasi diri kita sendiri secara positif, bukan secara negatif; adalah puncak keseimbangan dan netralitas jiwa di antara putus asa dan acuh; adalah keseimbangan jiwa antara pesimisme dan optimisme.”

Minggu, 15 Mei 2011

Ketika Cinta Berbalas Durhaka



 "..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik (patut). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS An Nisaa' [4]: 19).
Dalam sebuah forum konsultasi keluarga, seorang istri mengadukan perlakuan suaminya kepada Ketua Majlis Ulama Besar Arab Saudi, waktu itu masih dijabat oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah.
"Suami saya, meskipun ia seorang berakhlak mulia dan takut kepada Allah, namun ia tidak pernah memberi perhatian sama sekali di rumah. Dia selalu murung dan cemberut terus padahal Allah Maha Mengetahui bahwa saya sudah menunaikan semua kewajiban sebagai istri dan memberinya ketenangan. Tapi, saya tetap sabar dengan perlakuannya. Setiap kali saya tanya sesuatu, dia langsung marah dan emosi, lalu berkomentar, bahwa itu ucapan sepele dan tidak berguna.
Dia selalu bahagia dan ceria jika berkumpul dengan teman-temannya. Sementara saya tidak mendapatkan darinya kecuali cacian dan perlakuan kasar. Sungguh dia sering menyakiti dan menganiaya saya sehingga saya berkali-kali ingin kabur dari rumah ..” (Fataawa Al Mar'ah, Muhammad Al Musnid, h. 115, cet. I, Riyadh, 1414 H).
Perlakuan kasar dan kejam terhadap istri tidak terjadi pada masa Jahiliyah saja, melainkan juga terjadi di zaman modern seperti contoh di atas. Rumah dengan situasi dan kondisi semacam itu bak neraka. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terbilang tidak sedikit.
Perlakuan yang baik terhadap pasangan
Ayat di atas mempersembahkan satu kiat agar rumah kita tidak seperti neraka, yaitu memperlakukan pasangan dengan baik. Allah swt berfirman, ".. Dan pergaulilah istri-istri dengan baik (patut).Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah "Perbaguslah ucapanmu (wahai para suami) terhadap mereka. Perbaikilah perbuatanmu dan perindahlah tampilanmu sesuai kemampuanmu sebagaimana engkau menginginkan hal itu dari istrimu. Maka, lakukanlah terhadap istrimu seperti yang ingin ia lakukan terhadapmu (Tafsir Ibnu Katsir, II/22). Sebagaimana firman Allah, "..Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf (benar dan patut)” (QS Al Baqarah [2]: 28).
Dengan demikian perlakuan ma'ruf dalam ayat di atas maknanya sangat integral dan universal. Termasuk di dalamnya berusaha untuk berpenampilan baik dan menarik. Nabi saw memberi kiat agar suami menjadi dambaan bagi istrinya, "Cucilah wahai para lelaki pakaianmu, pakailah minyak rambut, bersikat gigilah, mandilah dan bersucilah; karena kaum Bani Israel tidak melakukan hal itu kepada istri-istri mereka” (HR Thabrani).
Dalam perspektif Nabi saw, manusia terbaik di dunia bukanlah manusia yang paling kaya atau paling tinggi jabatannya atau paling tinggi gelarnya atau paling keren tampilannya atau variabel-variabel dunia lainnya. Melainkan, manusia yang paling baik dalam memperlakukan pasangannya, memberikan banyak perhatian terhadap keluarganya. Beliau saw bersabda, "Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya” (HR Tirmidzi, no. 3830 dan Ibnu Majah, no. 1967. Menurut Tirmidzi, hadits tersebut hasan gharib shahih).
Karenanya, Rasulullah adalah orang yang selalu baik dalam bergaul, selalu ceria, mesra dengan istrinya, lemah lembut terhadap mereka, memberi mereka nafkah yang cukup untuk kebutuhan mereka (lihat QS Ath Thalaq [65]: 7), bersenda gurau dan bercanda dengan istrinya. Misalnya, beliau saw pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah ra. Faktor ini tidak bisa dipungkiri–selain pertolongan Allah–juga memiliki andil besar dalam mengantarkan keberhasilan Rasulullah saw dalam berdakwah dan membangun peradaban manusia serta mengeluarkan mereka dari beragam kezhaliman dan kegelapan di semua aspek kehidupan. Perlakuan yang baik terhadap keluarga membuat keluarga menjadi kreatif, energik dan produktif. Maka, meneladani Nabi saw dalam menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan keniscayaan, karena ini perintah Allah, sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS Al Ahzaab [33]: 21).
Ujian cinta
Termasuk memperlakukan pasangan dengan ma'ruf (baik dan patut) adalah setia dan tidak mengkhianatinya dalam suka dan duka. Tidak sedikit rumah tangga yang lulus ujian ketika diuji oleh Allah swt dengan kemiskinan dan kesempitan. Sehingga saat itu janji seiya sekata dan sehidup semati telah menjadi komitmen berdua.
Namun, ketika Allah menguji dengan kekayaan dan kemudahan, tidak sedikit yang berguguran dan tidak lulus ujian illa man rahimallah (kecuali orang yang dirahmati oleh Allah). Ketika harta melimpah, rumah luas, mobil mewah, jabatan bergengsi dan sejenisnya terkadang mudah membuat sebagian suami atau istri lalai sehingga menggerus sedikit demi sedikit cinta terhadap pasangannya. Bahkan, ada juga yang secara cepat mematikan api cinta sehingga melupakan pasangannya. WIL (Wanita Idaman Lain) atau PIL (Pria Idaman Lain) menjadi pelariannya dan puncaknya kehancuran biduk rumah tangga, yaitu cerai. Maka, cinta tulus itu pun telah dibalas dengan durhaka yang memicu prahara rumah tangga. Tentu, semua itu bisa terjadi ketika rumah tangga jauh dari iman dan lupa terhadap tujuan rumah tangga yang hakiki, membangun ‘istana' takwa sebagaimana firman Allah swt, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah..” (QS An Nisaa' [4]: 1). Begitu pentingnya rumah tangga, sampai-sampai dalam ayat ini, diapit oleh dua kali perintah takwa.
Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan
Bagian akhir ayat di atas, "Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa termasuk perlakuan yang baik adalah menghargai kelebihan pasangan dan memaklumi kekurangannya. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah swt semata.
Maka, mengharapkan kesempurnaan istri atau suami kita adalah sama saja mengharapkan kemustahilan. Karenanya, seorang yang beriman dituntut untuk mampu memenej (mengelola) kelebihan dan kekurangan pasangannya menjadi sebuah kekuatan yang dapat memancarkan cahaya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam kehidupan rumah tangganya.
Karena itu Umar bin Khaththab ra, seperti dikutip oleh Sayyid Quthb, pernah marah besar kepada seorang suami yang ingin menceraikan istrinya lantaran sudah tidak mencintainya, dengan mengatakan, "Celaka kamu ini! Bukankah rumah tanggamu selama ini dibangun di atas ‘pondasi' cinta? Lalu, mana usaha kerasmu untuk memelihara cinta itu?” (Tafsir Fii Zhilal Al Qur'an, I/600).
Perlakuan yang ma'ruf, memahami dan menghargai kewajiban dan hak masing-masing, ta'awun dalam kebajikan dan takwa, komunikasi efektif dalam rumah tangga dan selalu mengiringi dengan doa adalah kunci-kunci kebahagiaan rumah tangga sehingga menjadikan rumah kita damai, tidak seperti neraka.
Jika cinta kasih sudah diberikan dan perlakuan ma'ruf (baik dan patut) sudah ditegakkan, namun dibalas pasangan dengan durhaka dan ketidakpatuhan, maka nerakalah balasan dan tempatnya kelak.
Ancaman ini disampaikan Rasulullah saw dalam haditsnya, "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang berbuat kufur” Beliau lalu ditanya, "Apakah maksudnya mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, "(Maksudnya) kaum wanita itu mengkufuri suami (tidak mentaatinya dan durhaka kepadanya) dan mengkufuri kebaikan (perlakuan suami). Jika kamu telah berbuat baik kepada seorang di antara mereka sepanjang waktu, kemudian dia melihat sesuatu darimu, dia berkomentar, ‘Aku tidak melihat darimu ada kebaikan sedikitpun'” (HR Bukhari no. 28).
Semoga Allah swt tidak menjadikan rumah kita seperti neraka (panas, kering, tidak ada ketenangan dan cinta kasih) dan menjauhkan kita semua dari neraka akhirat. Amin.

Sabtu, 14 Mei 2011

Akhlak Mulia sebagai Inti Kebajikan


Hadits Arba’in Nomor 27, Bagian Ketiga
 
Di antara kandungan hadits Arba’in Nawawiyyah yang ke-27 adalah penjelasan Rasulullah saw bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah husnul khuluq (akhlak yang baik).
Rasulullah pernah bersabda, “Kebajikan itu adalah akhlak yang baik” (HR Muslim). Penegasan Rasulullah ini mirip dengan penegasan beliau saw bahwa haji adalah Arafah, di mana tidak bisa disebut haji kalau tidak melakukan wuquf di Arafah. Ini berarti seseorang tidak memiliki kebajikan manakala ia tidak memiliki akhlak yang baik.
 
Definisi akhlak
Secara bahasa, kata akhlaq (akhlak) adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Menurut Ibnu Manzhur (630–711 H/1232–1311 M), pakar bahasa Arab, khuluq bermakna agama, tabiat dan perangai. Masih menurut beliau, antara akhlaq dan khalq (penciptaan) memiliki pertalian yang sangat dekat. Kalau khalq (penciptaan) adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang bersifat lahiriah sebagaimana yang diciptakan Allah, maka khulq adalah bentuk, sifat, dan nilai-nilai yang bersifat batin.
Kedua hal ini, khalq dan khuluq, terkadang disifati dengan baik dan terkadang disifati dengan buruk. Pahala dan dosa lebih dikaitkan dengan yang bersifat batin (khulq) daripada yang bersifat lahir (khalq) (lihat: Lisan al-‘Arab pada Bab kha–lam– qaf).
Imam Ghazali rahimahullah (450–505 H/1058–1111 M) mendefinisikan akhlak sebagai kondisi yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (lihat: Ihya’ ‘Ulumud-din).
Sementara menurut Imam Qurthubi rahimahullah (600–671 H/1204–1273 M), akhlakadalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.
Intinya, akhlak adalah tabiat, perangai, adab dan nilai-nilai agama yang dipegang teguh oleh seseorang dan menjadi komitmen dirinya, sehingga seakan semua ini menjadi bagian dari penciptaan dirinya. Demikian menyatunya, sehingga kemunculannya bersifat otomatis, tidak dibuat-buat, dan dipaksa-paksakan.
 
Kedudukan akhlak dalam Islam
Agama Islam, melalui Al Qur’an dan As Sunnah banyak menjelaskan tentang kedudukan akhlak. Di antaranya adalah penegasan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah, “Aku tidak diutus oleh Allah swt kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Malik). Sesungguhnya realisasi akhlak yang mulia merupakan inti risalah Nabi Muhammad saw.
Syi’ar-syi’ar ibadah Islam di antaranya dimaksudkan untuk menggapai akhlak mulia. Shalat misalnya, antara lain dimaksudkan untuk mentarbiyah dan mendidik manusia agar berhenti dari segala perbuatan keji dan munkar (QS Al-‘Ankabut: 45). Ibadah puasa dimaksudkan, di antaranya untuk menggapai tingkatan taqwa (QS Al-Baqarah: 183). Berkaitan dengan ibadah puasa ini, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan palsu (bohong), maka tidak ada keperluan bagi Allah swt terhadap puasa seseorang yang hanya sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari)
Zakat, infak dan sedekah, di antara rahasianya adalah untuk menyucikan dan membersihkan jiwa dari berbagai sifat buruk dan tercela (QS At-Taubah: 103). Sedangkan ibadah haji difardhukan oleh Allah kepada mereka yang mampu dengan banyak maksud dan aturan, misalnya agar orang yang beribadah haji terlatih untuk tidak berkata kotor, tidak berbuat fasik dan tidak banyak berdebat kusir (QS Al-Baqarah: 197).
 
Akhlak buruk berarti iman tak sempurna
Rasulullah saw bersumpah tiga kali dan menyatakan bahwa seseorang tidaklah beriman manakala tetangganya tidak merasa aman darinya. Sabdanya, ”Demi Allah, ia tidaklah beriman, demi Allah, ia tidaklah beriman, demi Allah, ia tidaklah beriman. Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Yaitu seseorang, di mana tetangganya tidak mendapatkan keamanan darinya.” (HR Bukhari)
Lalu dalam rangka mendidik sahabat dan umatnya dari pembicaraan yang tidak baik, ngobrol ngalor ngidul yang tidak aman, serta hanya berbicara yang baik-baik, beliau saw bersabda, ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari)
Selanjutnya jelas, kemuliaan akhlak menunjukkan kesempurnaan iman. Rasulullah bersabda, “Orang-orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan manusia yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi, lihat: Silsilah Hadits Shahih, hadits no. 284)
Kemuliaan akhlak pada akhirnya akan mengantarkan orang-orang beriman ini ke dalam surga. Rasulullah saw bersabda, “Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah ketaqwaan kepada Allah swt dan akhlak yang baik, sementara yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka adalah mulut dan kemaluan.” (hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, lihat: Silsilah Hadits Shahih, hadits no. 977)
Akhlak yang baik, setelah bimbingan dan taufik Allah swt, merupakan buah kesungguhan usaha kita untuk mendidik, mentarbiyah dan melatih diri dengan berbagai sifat terpuji. Juga merupakan hasil dari jihad tanpa henti dan tak kenal lelah dalam memerangi segala perangai, tabiat dan sifat buruk yang mungkin muncul dalam diri.
Di antara usaha sungguh-sungguh ini adalah upaya terus memohon kepada Allah dengan doa yang selalu dipanjatkan Rasulullah saw pada setiap kali beliau membaca iftitah, doa yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Dalam doa iftitah ini beliau saw memohon, “… Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku akhlak yang terbaik, sebab tidak ada yang memberikan petunjuk kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Ya Allah, palingkan aku dari akhlak yang buruk, sebab tidak ada yang memalingkan akhlak yang buruk dariku kecuali Engkau.” (HR Muslim)
Semoga dengan usaha yang sungguh-sungguh dan jihad ini, kita terbimbing menjadi manusia yang ber-akhlaqul karimah.
(Bersambung)
(buat BOX)
 
Rasulullah Memiliki Akhlak paling Mulia
Di antara keistimewaan Nabi Muhammad saw adalah keberadaannya sebagai manusia yang memiliki akhlak tinggi, mulia dan agung. Akhlak ini dimiliki beliau saw semenjak belum menjadi nabi dan rasul, sebagaimana pernyataan Ummul Mukminin Khadijah ra, “Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, demi Allah, engkau menyambung hubungan silaturrahim, berbicara benar, memikul beban orang lain, membantu yang tidak berpunya, menyuguhkan penghormatan untuk tamu dan membantu mereka yang terkena musibah.” (HR Bukhari)
Karena akhlak beliau yang mulia, luhur dan agung inilah ummul mukminin sangat yakin bahwa Muhammad saw bukan manusia biasa. Oleh karena itu saat beliau saw menyampaikan bahwa dirinya adalah nabi dan rasul, ummul mukminin langsung beriman tanpa sedikit pun keraguan. Perempuan mulia itu juga mengerahkan seluruh jiwa, kedudukan dan hartanya untuk keimanan dan dakwah.
Keagungan akhlak Rasulullah menjadi salah satu rahasia kemenangan beliau saw dalam menghadapi musuh-musuh dakwah. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS Al-Qalam: 1–7.
Hal ini diakui pula oleh musuh-musuh dakwah Rasulullah sendiri. Buktinya, tercatat dalam sirah nabawiyah bahwa beliau saw sangat dimusuhi oleh mereka, sampai-sampai mereka bermaksud membunuh beliau dengan cara yang sangat keji. Namun di saat yang sama, musuh-musuhnya ini juga menitipkan benda-benda berharga milik mereka kepada Rasulullah!

Berbuat Kebaikan itu Mudah dan Ringan



Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Keempat (Selesai)
  
Dalam kajian Hadits Arba’in nomor 26 sebelumnya telah disebutkan bahwa Rasulullah saw begitu bersemangat dalam menunjukkan dan membuka setiap peluang kebaikan bagi umatnya. Beliau saw juga selalu berupaya menepis dan menutup munculnya sifat putus asa dan rasa tidak mampu dari dalam diri umatnya saat mereka dihadapkan pada berbagai amal keagamaan yang mereka anggap berat.
 
Perbuatan ringan bernilai sedekah
Rasulullah saw menjelaskan bahwa, “Pada diri manusia terdapat 360 ruas tulang, maka hendaklah ia bersedekah melalui setiap ruas ini.” Mendengar hal itu, spontan saja para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya, wahai Nabi Allah?”
Spontanitas para sahabat ini wajar saja. Betapa tidak, bagi kebanyakan para sahabat yang sederhana, mungkinkah setiap hari bersedekah sebanyak 360 kali? Lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa sedekah yang 360 kali itu hendaknya dilakukan oleh setiap ruas tulang!
Melihat bahwa para sahabatnya – juga umatnyakeberatan atas hal ini, maka Rasulullah menjelaskan jalan keluarnya. Beliau kemudian bersabda, “Engkau meludah di masjid dan menguruk (atau menimbun dengan pasir karena di zaman itu lantai masjid masih berupa pasir), sesuatu yang ada di jalan yang engkau singkirkan…
 Penjelasan seperti itu membuat sahabat mengerti bahwa  bersedekah 360 kali, setiap hari dan atas nama setiap ruas tulang, ternyata bisa diwujudkan melalui  pekerjaan-pekerjaan ringan. Begitu mudahnya hingga  siapa saja, baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, asal bersedia, dapat melakukannya. 
Siapakah yang tidak mampu menguruk ludahnya dengan pasir atau kerikil atau semacamnya setelah ia meludah? Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan sesuatu yang berpotensi membahayakan orang yang lewat dari tengah jalan? Siapakah yang keberatan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah) dan semacamnya?
Kenapa manusia tidak tertarik  membantu saudaranya yang sedang mengangkat atau menjinjing barangnya? Siapakah yang merasa keberatan memberi petunjuk arah yang benar saat melihat orang kehilangan arah dalam suatu perjalanan? Dan yang lebih ringan lagi adalah, siapakah yang tidak mampu menahan dirinya agar tidak menyakiti orang lain?
            Dalam penjelasan selanjutnya, beliau saw bersabda, "Jika tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha cukup sebagai gantinya” (Hadits shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad [5/354, 359] dan Abu Daud hadits no. 5242). Jadi, bahkan sedekah pun dapat diganti dengan ‘hanya’ mengerjakan shalat Dhuha.
Rasulullah pun mencontohkan perbuatan ringan lainnya yang bernilai sedekah.  Beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Maka. sebarkanlah salam di antara sesama kalian" (hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim no. 106).
Di bagian awal hadits ini, ada kesan ancaman. Sebab dinyatakan oleh beliau para sahabat tidak akan dapat masuk surga. Namun Rasulullah memberi jalan keluar agar para sahabat – dan umatnya – bisa masuk surga, yaitu dengan cara: beriman. Rupanya, beriman pun dianggap sulit. Maka, Rasulullah memberi jalan keluar lainnya, yaitu dengan keharusan saling mencintai sesama mukmin. Lalu beliau saw menunjukkan rahasia untuk saling mencintai, yaitu menyebarluaskan salam.
 
Sifat-sifat Rasulullah saw
            Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw, sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah: 128,  adalah seorang Rasul yang merasakan beratnya  penderitaan yang dialami umatnya, yang sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya dan yang penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
 
Sifat-sifat Rasulullah tersebut merupakan suri teladan bagi umatnya, dalam konteks ini khususnya untuk para guru, pendidik dan pemimpin. Dalam rangka meneladani Rasulullah dalam perkara ini, para pakar pendidikan Islam menjelaskan, di antara adab seorang guru kepada muridnya hendaklah:
  • Memberi bimbingan kepada sang murid agar ia mencapai kemaslahatannya.
  • Bersikap sayang dan lembut kepada sang murid.
  • Membantunya sekuat kemampuannya agar sang murid mendapatkan ilmu.
  • Memotivasinya agar selalu semangat dalam belajar.
  • Senantiasa mengingatkan sang murid akan keutamaan ilmu, sebab yang demikian itu akan meningkatkan semangatnya.
  • Memerhatikan kemaslahatan sang murid sebagaimana ia memerhatikan kemaslahatan anak dan dirinya sendiri.
  • Mencintai sang murid sebagaimana ia mencintai diri sendiri.
  • Menjauhkan sang murid dari hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana ia menjauhkan hal itu dari dirinya (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, karya Imam Nawawi, hal. 39 – 40).
 
            Kemudian dengan memerhatikan teladan Rasulullah tersebut, maka terkait dengan pemimpin, para ulama pun mengatakan bahwa di antara adab pemimpin adalah:
  • Bersikap sayang dan lembut kepada rakyat.
  • Mengambil hak dari mereka dan menyerahkannya kepada yang berhak.
  • Menutup celah-celah yang membahayakan mereka.
  • Mengamankan jalan.
  • Menegakkan keadilan dengan cara menindak yang zalim dan membela yang terzalimi.
  • Mengupayakan agar si kuat membela si lemah (lihat Al-Jauhar an-Nafis fi Siyasat Ar-Rais, hal. 133).
 
      Adab-adab seperti ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adab (pendidikan) dan ulama-ulama siyasah (politik), adalah hasil kajian dan penelusuran mereka kepada cara-cara Rasulullah saw dalam mendidik dan memimpin, yang semuanya mengacu kepada QS At-Taubah: 128, sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Inilah butir-butir pelajaran yang dapat digali dari hadits Arba'in An-Nawawiyyah ke-26. Semoga Allah swt memberi taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendengarkan perkataan-perkataan yang terbaik, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Amiin.

Mengubah Ujian Menjadi Pujian



“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan/ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna Lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah [2]: 155-157)
          
Sebagai orang yang beriman, tidak ada yang bisa dilakukan selain menyikapi ujian secara benar dan sesuai dengan petunjuk Allah swt agar ujian tersebut bisa berubah menjadi pujian di sisi-Nya. Ayat di atas telah memberikan rambu-rambu dalam menyikapi berbagai macam ujian sehingga bisa berubah menjadi pujian.

Ujian adalah Sunnatullah

            Sesungguhnya ujian (ibtila’) adalah Sunnatullah fil Hayah (dalam kehidupan). Adalah mustahil hidup di dunia tanpa ujian. Begitu pastinya ujian, maka dalam ayat di atas sampai perlu dihadirkan 2 (dua) huruf at-Taukid (kata penegas); yaitu al Laam dan Nun at Taukid pada lafazh “Wa lanabluwannakum” (Dan sungguh pasti Kami akan menguji kalian). Bahkan redaksinya pun dengan menggunakan Fi’il Mudhari’ yang berarti berkesinambungan.
            Apa bentuk ujiannya? Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan. Jauh lebih ringan dari cobaan dan musibah yang Allah berikan kepada umat-umat terdahulu sebagaimana firman Allah, “... karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS An Nahl [16]: 112). Di antara bentuk ujian Allah adalah kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
 
Ujian adalah tuntutan keimanan
            Allah swt telah menegaskan bahwa ujian termasuk Qadhaaya Imaniyah (diskursus keimanan) bahkan merupakan Muqtadlayaatul Iman (tuntutan keimanan) sebagaimana dalam firman-Nya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al ‘Ankabuut [29]: 2-3)
            Karena itulah manusia-manusia pilihan Allah, para nabi dan rasul juga diuji. Nabi Ibrahim as diuji untuk menyembelih putranya. Nabi Ayub as diuji dengan penyakit selama bertahun-tahun. Termasuk Rasulullah saw juga menghadapi begitu banyak ujian dan cobaan. Ujian adalah cara Allah untuk menggembleng dan meningkatkan derajat para hamba-Nya.          Nabi saw bersabda,“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan mengujinya.” Karenanya, ujian sesungguhnya merupakan kebaikan bagi seorang mukmin. Sebab, dengan ujian dan musibah itu menjadikannya selalu bersandar kepada Allah, mendekat dan ta’at kepada-Nya serta meninggalkan semua bentuk kemaksiatan.
Rasulullah pernah bersabda, “Besarnya ganjaran pahala sesungguhnya berasal dari besarnya petaka/musibah yang menimpa. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Ia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka Allah pun ridha padanya, dan barangsiapa yang murka karenanya, maka Allah pun murka padanya.” 

 

Hadapi ujian dan musibah dengan sabar

            Manusia tidak sama dalam menyikapi ujian. Ada yang tidak sabar, bahkan sering menyalahkan Tuhan, dan ada yang sabar. Karena itu, reward yang diberikan Allah kepada manusia yang diuji pun berbeda-beda, sesuai dengan penyikapannya terhadap ujian dan musibah.
Maka, sikap pertama yang bisa mengubah ujian menjadi pujian adalah dengan sabar. Bagi orang yang sabar saat diuji, maka Allah memujinya dan melimpahkan kepadanya pahala yang besar, “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, begitulah Allah sampaikan dalam ayat di atas. Bagi yang tidak sabar, berarti tidak pantas mendapatkan berita gembira dari Rabbul ‘Aalamin. Sebab, ia sama saja tidak beriman kepada Qadha dan Qadar Allah.
            Begitu banyak ayat dan hadits yang menyemangati kita untuk selalu bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah. Di antaranya , irman Allah, “Dan mohon pertolonganlah kalian dengan sabar dan shalat. (QS Al Baqarah [2]: 45)
Dan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az Zumar [39]: 10)
            Rasulullah saw bersabda, “Sungguh amat menakjubkan urusan orang yang beriman, karena semua urusannya adalah kebaikan semata, dan tak seorang pun yang memiliki hal itu selain orang beriman. Apabila ia memperoleh kegembiraan (nikmat), lalu ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa keburukan/bencana, lalu ia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya.”
 
Kembali kepada Allah
            Kesabaran yang hakiki adalah kesabaran yang mampu menyadarkan manusia bahwa semua yang ada di dunia milik Allah dan cepat atau lambat pasti akan kembali kepada Allah, “(orang-orang yang sabar yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna Lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
            Seluruh jagat raya ini milik Allah, termasuk harta, rumah, anak, istri dan sebagainya. Semua itu diamanahkan dan dititipkan kepada kita. Untuk selanjutnya akan diminta pertanggungjawaban di akhirat nanti. Sebagai Pemilik, Allah berhak mengambilnya kapan saja sekehendak-Nya. Karena itulah, kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya jika sewaktu-waktu diri, harta, anak, istri dan semua yang ada di sekitar kita diambil oleh Allah.
 

Pujian dan penghargaan bagi orang yang sabar

            Bagi orang sabar ketika diuji dan meyakini Qadha dan Qadar Allah, baik atau buruk sehingga menerima dengan ikhlas dan tabah terhadap semua jenis cobaan dan musibah, maka Allah menganugerahkan kepadanya 3 (tiga) pujian dan penghargaan besar:
Pertama, mendapat shalawat dari Allah. Mereka diangkat derajatnya oleh Allah, disejajarkan dengan Rasulullah saw dalam memperoleh penghargaan ini (Lihat Fi Zhilal Al Qur’an, Sayyid Quthb, I/139-140) sebagaimana firman Allah dalam QS Al Ahzab [33]: 56,“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.” Shalawat dari Allah berarti maghfirah (pengampunan), dukungan, pertolongan, kemenangan, dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya, dan sebagainya.
Kedua, mendapat rahmat Allah. Hanya orang yang tidak waras akalnya yang tidak mengharap rahmat Allah. Dengan rahmat Allah-lah seseorang masuk surga.
Ketiga, mendapat predikat sebagai Al Muhtaduun, “mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.Kehadiran dhamir “Hum” dalam ayat di atas memberikan pemahaman bahwa hanya merekalah yang pantas bergelar Al Muhtaduun, sementara yang lain tidak.
 

Akibat maksiat dan dosa

            Begitupun sesungguhnya musibah dan bencana tidak terjadi begitu saja, melainkan karena ada pemicunya, yaitu maksiat dan dosa. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam banyak ayat, di antaranya,“Dan musibah apa pun (gempa bumi, penyakit menular, longsor) yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy Syuura [42]: 30)
            Semoga ujian dan musibah kali ini mampu memotivasi kita semua, dari rakyat sampai pejabat, untuk melakukan perubahan yang signifikan dalam kehidupan kita dengan melakukan muhasabah (introspeksi dan mengevaluasi diri) kemudian cepat bertobat kepada Allah dari segala dosa dan kesalahan, sehingga membuat negeri ini terbebas dari bencana dan malapetaka.

EMPAT PILAR KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA

  Oleh Ahmad Kusyairi Suhail, MA

  “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS Al ‘Ashr [103]: 1-3)
 
           
            Surat Al-‘Ashr yang sangat singkat ini memuat suatu hal yang amat besar. Tiga ayat pendek tersebut mendeskripsikan sistem yang integral dan universal bagi kehidupan umat manusia sebagaimana yang diinginkan oleh Islam. Sekaligus, menawarkan empat pilar kebahagiaan duniawi dan ukhrawi bagi individu dan keluarga, dalam kalimat-kalimat singkat yang mudah dimengerti.
Ayat-ayatnya memang singkat, namun begitu mendalam dan luas kandungannya. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya manusia benar-benar mentadabburi surat ini, niscaya cukuplah ia menjamin kebahagiaan mereka” (Tafsir Ibnu Katsir IV/582). Dalam riwayat lain beliau berkata, “Seandainya tidak diturunkan surat lain selain surat Al ‘Ashr ini, niscaya cukup bagi manusia” (Tafsir Ruuhu’l Ma’aani XXX/227).
Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah, surat yang termasuk golongan surat makkiyah ini memberi pemahaman kepada kita bahwa sepanjang sejarah umat manusia di mana dan kapan saja hanya ada satu sistem (manhaj) yang menguntungkan dan membahagiakan, yang memberikan kemenangan dan keselamatan. Yaitu sistem yang batasan-batasan dan rambu-rambunya digambarkan secara jelas dalam surat ini. Berarti, sistem selain ini akan menjerumuskan ke dalam kehancuran, kesengsaraan dan kerugiaan pada semua aspek kehidupan di dunia dan di akhirat (Fii Zhilal Al-Qur’an VI/3964). Tak terkecuali aspek rumah tangga.
           
            Keempat pilar kebahagiaan rumah tangga yang ditawarkan oleh surat Al-'Ashr adalah:
 
1. Iman
            Iman adalah mutiara yang menambah bobot nilai dan harga serta meninggikan derajat seseorang dan keluarga di sisi Allah swt. Sebesar apa pun kekayaan seseorang, setinggi apa pun jabatan seseorang dalam suatu institusi/pemerintahan, sehebat apa pun kejeniusan seseorang bila tanpa iman, maka di sisi Allah ia sama sekali tidak bernilai meskipun seluruh dunia mengagumi dan mengagungkannya. Perhatikan firman Allah pada QS Al-Baqarah (2): 221.
Maka, rumah tangga terbaik dalam perspektif Al-Qur'an adalah rumah tangga yang dibangun atas dasar iman. Rumah tangga yang senantiasa menghadirkan suasana dan nuansa keimanan dalam seluruh aktivitasnya.
Dan Allah hanya akan menganugerahkan kehidupan yang bahagia kepada hamba-hamba-Nya yang mendasari seluruh amal dan kegiatannya dengan iman,  sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (bahagia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS An-Nahl [16]: 97). Lihat juga QS Al-A’raaf (7): 96.
Tentu saja, keimanan yang kita maksud di sini bukanlah keimanan yang parsial, sebatas di bibir saja seperti keimanan ala orang munafik (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 8, Al-Munaafiquun [63]: 1-3). Atau keimanan sekadar keyakinan dalam hati sebagaimana dinyatakan Iblis yang telah meyakini Allah sebagai sang Pencipta (Lihat QS Shaad [38]: 76). Melainkan keimanan yang utuh dan menyeluruh dengan segala dimensinya, sehingga mampu menghadirkan kekuatan hubungan dengan Allah di mana, kapan saja dan dalam kondisi apa pun.
 
2. Amal shalih
            Keimanan yang sejati berbuah amal shalih. Amal shalih bisa berbentuk ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karenanya, ulama tafsir mengartikan amal shalih yaitu melaksanakan semua kewajiban yang diperintah syariat (agama) dan meninggalkan semua bentuk maksiat serta melakukan berbagai macam kebajikan (At Tafsir Al Munir, Az Zuhaili XXX/395).
            Maka, beragam aktivitas keluarga yang dapat mendekatkan diri anggota keluarga tersebut kepada Allah, maka aktivitas itu termasuk amal shalih. Rekreasi, silaturrahim, olah raga keluarga, dan lain-lain, semuanya bisa masuk dalam kategori amal shalih jika dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
 
3. Proaktif mendakwahkan Islam (At Tawaashi bil Haq)
            Kedua pilar di atas (iman dan amal shalih) hanya mengantarkan kepada shalih untuk diri sendiri (Shaalihun Li Nafsihi) yang pada gilirannya tidak menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebab, Allah tidak menciptakan hanya seorang manusia, melainkan komunitas manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (QS Al-Hujuraat [49]: 13).
            Karena itu kesempurnaan seorang Muslim dan kebahagiaannya sangat tergantung sejauh mana ia mampu menularkan keshalihan individual menjadi keshalihan sosial. Shalat kita misalnya, baru akan sempurna manakala shalat ini mampu membuahkan dampak sosial yang positif bagi kehidupan kita (baca: Naafi’un Lighairihi, bermanfaat bagi orang lain). Dalam bahasa Al-Qur’an, mampu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar (QS Al-‘Ankabuut [29]: 45).
            Untuk itulah Rasulullah saw menegaskan dalam haditsnya, bahwa manusia yang terbaik di jagat raya ini adalah yang bermanfaat untuk orang lain (Khairunnaas anfa’uhum linnaas).
            Beliau saw juga pernah ditanya, “Islam apa yang terbaik?” Beliau menjawab, “Yaitu orang Islam yang orang lain selamat (aman) dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR Bukhari).
            Maka, membudayakan saling menasihati dalam rumah tangga adalah pilar kebahagiaan suatu keluarga. Sebab, membiarkan keburukan, kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ajaran Islam merajalela dalam rumah tangga kita, maka berarti sama saja kita membiarkan munculnya banyak lubang dalam 'kapal'. Akhirnya, cepat atau lambat akan menenggelamkan kita dan seluruh anggota keluarga besar kita. Karenanya, proaktif mendakwahkan atau menularkan kebaikan kepada sesama anggota keluarga akan mengantarkan keluarga kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. 
 
4. Sabar
            Mempraktikkan ketiga pilar di atas dalam kehidupan rumah tangga bukan perkara yang mudah. Pasti, dan tidak bisa tidak, akan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan yang bisa datang dalam berbagai bentuk. Bahkan terkadang pertentangan dan perlawanan sengit justru muncul dari keluarga. Bukankah Nabi Muhammad ketika mendakwahkan Islam dan menyebarkan kebaikan, juga dihadang dan dihalang-halangi Abu Lahab, yang nota bene adalah paman beliau saw. Tribulasi dalam mewujudkan iman, amal shalih dan dakwah adalah sebuah keniscayaan karena ia sunnatullah dalam ber-Islam.
            Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al ‘Ankabuut [29]: 2-3).
            Mengharapkan kebahagiaan rumah tangga tanpa kesabaran, sama saja mengharapkan hadirnya gagak putih. Mustahil. Wallaahu A’lam.
 
 
****
 
Menegakkan Pilar dengan Berjamaah
 
            Hal yang menarik, keempat pilar tersebut diredaksikan oleh Allah dalam bentuk jama’. Ini memberikan pemahaman pentingnya persamaan dan kebersamaan (berjama'ah) dalam meraih kebahagiaan dan membebaskan dari kerugian dan kekalahan. Termasuk di sini, persamaan visi dan misi semua anggota keluarga dan kebersamaan dalam menerapkannya.
Inilah barangkali rahasianya, mengapa para sahabat jika bertemu dengan kawannya, mereka tidak berpisah hingga salah seorang di antara mereka membacakan surat Al ‘Ashr ini kepada kawannya, kemudian mereka mengucapkan salam (HR Ath Thabrani dari Ubaidillah bin Hafsh seperti dalam At Tafsir Al Munir XXX/391).